Surakarta, 25 November 2018.

Perwakilan dari 3 negara, Indonesia-Malaysia-Thailand kembali meneguhkan komitmen bersamanya untuk mewibawakan bahasa Melayu-Indonesia. Peneguhan komitmen tersebut diwujudkan dalam bentuk seminar bersama yang bertajuk “Seminar Memartabatkan Bahasa Melayu Asean Kali ke-4” pada hari Sabtu-Ahad (24-25/11/2018) di Fatoni University (FTU) yang dihadiri oleh peserta-peserta dari negara-negara yang tergabung dalam kawasan Asean.

Keynote Speaker dalam acara seminar tersebut adalah Prof. Maazlee Malik (Mendikbud Malaysia), Lutfii Capakiya (Rektor FTU), dan Dr. Sofyan Anif, M.Si (Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

Pertama-tama seminar dibuka secara resmi oleh Menteri Pendidikan Malaysia Prof. Maazlee Malik, dilanjutkan dengan paparan pentingnya mengembangkan bahasa Melayu-Indonesia sebagai pengemban ipteks di era komputasi global saat ini.

Dalam paparannya, Sofyan Anif mengatakan bahwa Indonesia dan beberapa negara anggota ASEAN memiliki kesamaan misi bagaimana agar Bahasa Melayu/Indonesia bisa menjadi bahasa internasional. Negara-negara yang tergabung dalam ASEAN punya keinginan yang kuat agar Bahasa Melayu/Indonesia bisa mendunia. Disisi lain, Sofyan juga menawarkan sejumlah strategi yang harus ditempuh agar cita-cita tersebut bisa terealisasi. Salah satu strategi yang penting adalah meningkatkan pengembangan ipteks (ilmu pengetahuan dan teknologi).

“Harus ada strategi dan kebijkan yang secara langsung bisa mendorong dan memperkuat tercapainya misi tersebut. Salah satu strategi yang penting perguruan tinggi di ASEAN harus punya komitmen yang tinggi untuk pengembangan ipteks,” papar Sofyan Anif di hadapan peserta seminar, Minggu (25/11/2018).

Pasalnya, lanjut Sofyan Anif, selama ini negara-negara ASEAN relatif masih menjadi konsumen Ipteks, belum menjadi produsen ipteks. “Kalau kita (ASEAN), sudah makin produktif dalam ipteks, maka akan banyak buku-buku dan jurnal-jurnal yang ditulis dalam Bahasa Indonesia dan negara-negara di luar ASEAN menjadi konsumen. Dengan demikian mereka dengan sendirinya akan mengonsumsi karya tulis dalam bahasa merelayu/Indonesia tersebut. Maka ini bagian penting dari upaya memartabatkan Bahasa Melayu/Indonesia tidak hanya dalam kancah ASEAN tapi juga level dunia,” ungkapnya.

Pembentangan makalah kunci yang dilanjutkan pada sesi pleno dari Badan Pengembangan Bahasa Kemendikbud RI, Dewan Bahasa dari Pemerintah Malaysia, dan Dewan Bahasa dari Pemerintah Thailand.

Dalam sambutannya antara Menteri Pendidikan Malaysia, Rektor UMS mewakili Indonesia, dan rektor FTU mewakili Thailand sepakat untuk menghidupkan dan mewibawakan serta memartabatkan bahasa Melayu-Indonesia melalui seminar-seminar berkelanjutan, riset bersama untuk menambah kosa kata, dan membudayakan literasi dan buku sebagai salah satu aspek penting dalam menanamkan karakter kebangsaan sebagai masyarakat Melayu-Asean yang ulet, kuat, tangguh, mandiri, jujur, berdisiplin, dan pekerja keras.

Dalam forum tersebut juga disepakati pentingnya asosiasi pendidikan bahasa Melayu-Indonesia di kawasan Asean. Forum ini diharapkan bukan saja sebagai pengembangan bahasa Melayu-Indonesia Asean. Lebih strategis lagi diharapkan me jadi forum strategis untuk mengantarkan bahasa Melayu-Indonesia sebagai salah satu bahasa resmi PBB.

Harun Joko Prayitno berharap, ke depan kegiatan ini tidak hanya diselenggarakan dalam acara seminar saja. “Tetapi lebih dari itu akan menjadi sebuah komunitas para peserta dari Negara-negara di ASEAN untuk menjunjung tinggi dan mempopulerkan Bahasa Melayu-Indonesia,” katanya.

Selanjutnya akan dilakukan pertemuan lanjutan untuk menindaklanjuti hasil-hasil pertemuan di Thailand tersebut. Rencananya pada minggu ke-3 setelah acara seminar bertempat di UMS dan selanjutnya di UM-Makassar. Rencananya juga akan dibentuk Asosiasi Prodi Pendidikan Bahasa Melayu-Indonesia ASEAN. Semoga dan Inshaa Allah. Aamiin YRA. Salam @FKIP CAKAP.