Surakarta, 15 Agustus 2019.

Untuk mengakrabkan mahasiswa dari berbagai daerah dan negara, FKIP UMS mengadakan temu budaya dan gala dinner yang diadakan di gedung induk siti walidah UMS pada Kamis, (15/08/2019).

Kegiatan tersebut diikuti sebanyak 93 mahasiswa yang berasal dari 5 daerah di Indonesia dan 2 mahasiswa dari negara sahabat. Ke lima daerah tersebut adalah Babel, Palu, Kendari, Jakarta, dan Solo (UMS). Selanjutnya untuk 2 negara sahabat yaitu Thailand dan Vietnam.

Dekan FKIP UMS, Prof Harun Prayitno mengungkapkan kegiatan Temu Budaya Malibu yang digelar ke IV tersebut digelar untuk mengenalkan keberbagaian kekayaan budaya baik yang ada di Indonesia dan negara sahabat.

“Program Malibu yang dilaksanakan telah berlangsung keempat kalinya. Mahasiswa yang ikut pogram Malibu berasal dari berbagai latar belakang daerah, kultur kebudayaan, etnis. Tujuannya agar mereka saling mengenal kontek ke-Indonesiaan dan kebudayaan lebih luas”, tambahnya

Sebab dengan adanya digital change, memberi konsekuensi perubahan terhadap culture change dan akhirnya ke sociaty change. Para peserta Malibu antara lain melalui program South East Asian (SEA) Teacher atau semacam calon guru dari ASEAN. Seperti dari Thailand, Vietnam, dan Philipina, Malaysia. “Pada saat yang sama, kami juga mengirim para mahasiswa ke negara negara itu,” ungkapnya.

Selama tinggal di Solo, peserta Malibu mula-mula mengamati aktivitas budaya sekolah, lingkungan sekolah, dan iklim pembelajaran. Mereka kemudian latihan mengembangkan kerangka pembelajaran di sekolah masing-masing. Peserta Malibu ditempatkan di 97 sekolah yang tersebar di Soloraya, mulai jenjang TK hingga SMA/SMK.

Para mahasiswa berinteraksi sebagaimana layaknya pendidik di sekolah. Yusri, peserta Malibu dari Ummuh Palu mengatakan, dirinya tinggal di Solo mengikuti program selama satu bulan. Banyak hal didapatkan selama mengikuti program Malibu.

Disela sela acara, mutiara (mahasiswi STKIP Muh Babel) mengaku senang bisa masuk dalam program Malibu.

“Senang bisa membagikan budaya Babel dan juga mengabdi ilmu kami pada sekolah – sekolah,” tandas Mutiara, yang mempersembahkan tarian Pinang Sebelas.

Hal senada disampaikan Nguyen Thanh Nahn mahasiswa Dong Thap University (DThU) Vietnam, ia senang bisa belajar dan mengajar di sekolah Indonesia. Nahn bersama dua temannya dari Vietnam akan mengajar matematika di SMA Muhammadiyah 1 Surakarta.

Semoga dengan berakhirnya kegiatan ini dapat mempererat dan merekatkan serta mengenalkan antar budaya pada masing-masing daerah supaya masing-masing dari mereka dapat memperluas wawasan serta pengetahuan ke-Internasionalan dan ke-Indonesiaan. Salam @FKIP CAKAP.