Surakarta, 2 Mei 2020

FKIP UMS mengambil peran penting webinar dalam rangka memperingati Hardiknas 2 Mei 2020  ini yang bertemakan Rekayasa Pembelajaran Era  Merdeka Belajar di Masa Pandemi Covid-19. Terdapat dua kata kunci penting dalam webinars ini, yaitu rekayasa pembelajaran dan merdeka belajar. Pembelajaran saat di era komputasi global ini berkembang dengan pesatnya dan ekstrimnya telah mengalami bukan saja perubahan yang luar biasa. Tetapi sudah terjadi lompatan teknik dan strategi pembelajaran yang demikian cepatnya. Sudah terjadi semacam disrupsi pembelajaran. Yaitu, perubahan teknik dan strategi pembelajaran yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Kristalisasi pesan penting KH Dewantara “Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah” terbukti. Pembelajaran daring yang dilaksanakan di hampir semua negara di dunia ini, lebih dari 206 negara, secara bersamaan dan tiba-tiba karena pandemi global “siap atau belum siap, suka atau belum suka, lancar atau belum lancar, bahkan ada atau belum ada” harus menjadi seolah “siap, suka, lancar, dan ada” dalam pembelajaran daring ini. Dalam pembelajaran daring ini semua orang tua, kakak, adik, keponakan, keluarga, tetangga, kolega, tamu, dan bahkan orang yang belum dikenalnya tiba-tiba menjadi guru semua. Dan, tiba-tiba pula semua rumah sekarang ini secara disrupsi (: Jawa ujug-ujug) sudah menjadi unit-unit dan suasana sekolah. Perubahan besar yang terjadi saat ini tersebut, jauh hari sudah dipikirkan oleh Bapak Pendiri Pendidikan Indonesia, KH Dewantara. Itulah sebabnya, KH Dewantara layak mendapat anugerah seorang futuris pendidikan.

Apapun dapat dijadikan sumber belajar. Setting bagaimanapun dapat dijadikan tempat belajar (H.J Prayitno, 2020). Dalam konteks ini sumber belajar bukan hanya dari orang ke orang. Alam semesta, benda, alat, medsos, dan apa pun lainnya yang tidak bisa disebutkan saat ini bisa dijadikan sumber belajar. Oleh karena itulah, pemilihan dan penentuan sesuatu apapun sebagai sumber belajar tersebut pentingnya didasarkan pada value ‘nilai’. Karena hakikatnya sumber belajar yang dari manapun itu harus didasarkan pada nilai kemanfaatan, nilai kemanusiaan, dan nilai untuk memartabatkan kehidupan. Karena ilmu yang sesungguhnya adalah ilmu yang bermanfaat, ilmu yang mememanusiakan manusia (: Jawa nguwongke), dan ilmu yang bermartabat serta beradab.

Setting pembelajaran saat ini tidak lagi bisa di batasi hanya di sekolah atau di rumah. Dalam setting pembelajaran tersebut juga mengalami perubahan, dinamika, dan lompatan yang sangat cepatnya. Setting pembelajaran berubah dari tempat ke waktu. Berubah dari waktu ke suasana. Siswa dan siapapun bisa belajar bukan saja di sekolah, atau bukan saja di rumah, tetapi bisa berlangsung di manapun, di mobil, di pesawat, di kebun, di pos ronda, bahkan ekstrimnya bisa di kamar mandi (WC) sekalipun. Perubahan setting pembelajaran yang sangat ekstrim ini karena sangat bergantung pada suasana ‘mood’ pembelajar. Dalam konteks ini diperlukan pentingnya suatu nilai belajar. Hakikat belajar adalah ilmu yang dapat memartabatkan kehidupan.

Di dalam setting belajar itu sendiri sangat dimungkinkan adanya perubahan yang sangat ekstrim lagi. Pada hari yang sama siswa atau pembelajar dapat belajar di berbagai tempat sekaligus. Dinihari belajar di rumah, pagi hari belajar di bandara, tengah hari belajar di kota transit pertama, siang harinya lagi belajar di kota transit kedua dan seterusnya, menjelang sorenya belajar di bandara tujuan. Demikian seterusnya selama masih ada akses (: sinyal). Sesungguhnya telah terjadi pergerakan setting pembelajan yang berubah dengan drastisnya. Semua ini dikembalikan kepada tatanan dan hahikat nilai belajar. Setting belajar yang sesungguhnya adalah setting waktu-tempat-suasana (triple setting Pendidikan) yang bisa tetap berpijak pada nilai kemanfaatan.

Belajar untuk ilmu, ilmu apapun. Ilmu yang dapat memartabatkan kehidupan. Ilmu yang mampu memanusiakan manusia. Ilmu yang bisa mendatangkan kemanfaatan. Itulah pesan penting dari webinars dalam rangka Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2020 yang diikuti oleh 862 peserta dari berbagai lapisan, unsur, dan benua. Sebagai nara sumber untuk memartabatkan ilmua tersebut, yaitu: Prof. Suyanto, Ph.D. (pemerhati pendidikan sekaligus Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah), Prof. Warsito (Atdikbud RI Prancis), Prof. Dr. Sofyan Anif (Rektor UMS), Prof. Dr. Harun Joko Prayitno (Ketua ALPTK PTM), Prof. Gamal Abdul Nasir Zakaria (UBD, Education Faculty Universiti Brunei Darussalam), Prof. Fauziah Abdul Rahim (Education Faculty, UUM Malaysia). Semoga bermanfaat. Salam @FKIP CAKAP.

Lampiran:

  1. Materi Prof. Warsito (Atdikbud Kedubes RI di Prancis)
  2. Materi Prof. Fauziah Abdul Rahim (UUM, Malaysia)
  3. Materi Prof. Suyanto (Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah)
  4. Materi Prof. Harun Joko P. (Ketua ALPTK PTM)