Fatoni, 29 September 2018.

Mahasiswa/i peserta PLP II terintegrasi KKNDik internasional FTU-UMS 2018 beranggotakan 22 mahasiswa/i yang dimana 11 orang merupakan mahasiswa/i Pendidikan Bahasa Inggris UMS angkatan tahun 2015. Mereka, yang menyebut diri mereka dengan “DEE-FTU 18”, yang terdiri dari satu laki-laki dan sepuluh perempuan ini terbagi menjadi 8 sekolah jaringan assalam. Delapan sekolah tersebut ialah sebagai berikut:

  1. Darul Ulom School (Febriana Trikurnia)
  2. Sukansat Witya School (Nur Hanifah)
  3. Chongratsatwittya School (Gina Oktaviana & Alam Djati)
  4. Hatyaiwittayakarn School (Aldi Eno Prasetiyo & Wahida Fila Ataelia)
  5. Assholihiyyah School (Rohima Pramudita)
  6. Bambroong Islam School (Shifa Nurul Fawzia)
  7. UDomsasn Witya School (Sellina Anggita)
  8. Kauna Witthaya School (Aisyah Aulia & Shin Puan Maharani)
English Camp

Kegiatan yang dilakukan mahasiswa/i “DEE-FTU 18” sangat berkesan bagi pihak sekolah dan juga para mahasiswa/i sendiri. Kegiatan mahasiswa/i di lingkup sekolah dan di sekitarnya difokuskan pada bahasa inggris baik untuk mahasiswa/i sendiri dan juga peserta didik di sekolah mitra. Contohnya seperti English Camp di Hatyaiwittayakarn, yang dimana para peserta didik diarahkan untuk menjadi tour guider yang benar. Dalam kegiatan tersebut, para peserta didik diberikan sedikit pembekalan terlebih dahulu lalu ditempatkan di beberapa objek wisata. Kegiatan lainnya yaitu mendirikan perpustakaan mini dari Sukansat Witya School. Dalam mendirikan perpustakaan tersebut, mahasiswi terlebih dahulu mereka mencari ruang yang akan digunakan sebagai tempat didirikannya perpustakaan mini tersebut. Serta mahasiswi berinisiatif untuk mencari sendiri buku-buku yang akan dipamerkan pada perpustakaan mini tersebut.

Mini Library

English in The Morning, salah satu kegiatan yang dilakukan oleh dua mahasiswi yang ditempatkan di Kauna Witthaya School. Kegiatan ini dilakukan di setiap pagi hari yang dimana para peserta didik diminta untuk bernyanyi dan bercakap dengan bahasa inggris. Kegiatan ini berfokus pada anak usia 3-5 tahun di sekolah tersebut.

English in The Morning

Selain itu, kegiatan lain yang diikuti oleh mahasiswa/i PLP II terintegrasi KKNdik internasional adalah Sukan Warna. Kegiatan ini diadakan setiap satu tahun sekali di setiap sekolah di Thailand. Para peserta didik maupun santri melakukan pawai di sepanjang jalan di daerah mereka dengan menggunakan pakaian yang memiliki corak warna berbeda-beda. Seperti yang dilakukan di salah satu sekolah jaringan mitra yaitu Chongraksatwittaya School. Tak hanya pawai yang diselenggarakan dalam kegiatan ini, namun juga ajang kompetisi olahraga dan seni.

Sukan Warna

Kegiatan berwirausaha juga dilakukan oleh dua mahasiswi di Udomsasnwitya School. Kegiatan bermula ketika salah satu santri di asrama mempunyai gagasan untuk membuka warung makan. Kegiatan ini dilaksanakan setiap sore sampai malam hari. Di warung tersebut mereka menjajakan berbagai macam makanan dan minuman khas Thailand. Dengan adanya kegiatan ini diharapkan santri asrama dapat bergerak aktif, kreatif serta inovatif untuk kegiatan wirausaha tersebut. Dan tentunya memiliki pengalaman untuk menjual produk sendiri dan bagaimana cara memasarkannya.

Berwirausaha

Kedatangan peserta PLP II terintegrasi KKNdik internasional UMS juga menjadi hal yang menarik bagi para santri Thailand yang tinggal asrama, antusias yang tinggi pada orang baru pun memudahkan mahasiswa/i untuk beradaptasi. Tak hanya bertemu dengan para santri, diasrama juga mereka menemui seorang yang sangat berjasa untuk kelangsungan hidup para santri diasrama. Yaitu, petugas dapur yang tak kenal lelah menyediakan makan tiga kali dalam sehari. Memasak porsi besar tak mungkin dilakukan sendiri, terlebih minimnya petugas asrama, petugas dapur pun juga merangkap menjadi penjaga kantin. Tak hanya diam, mahasiswi yang ditempatkan di Assholihiyyah School turut membantu memasak dan menjaga kantin. Tampak biasa namun bukanlah hal yang mudah, keterbatasan komunikasi dalam melakukan jual beli juga menjadi tantangan bagi mereka. Sesekali tertawa dengan menggunakan bahasa isyarat. Tak hanya itu, memasak dengan cita rasa Thailand juga memiliki proses yang tak serupa dengan di Negara asal kita, Indonesia.

Memasak di Dapur Sekolah

Disusun oleh: Aisyah Aulia