Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta menyelenggarakan kegiatan kuliah umum pada Kamis, 12 Maret 2026 di Ruang Seminar Gedung Induk Siti Walidah lantai 7. Kegiatan akademik ini menghadirkan pembicara internasional, yaitu Esie Hanstein, pakar Bahasa Indonesia dan pegiat sosial humaniora dari Humboldt-Universität zu Berlin dan Universität Leipzig, Jerman.
Kuliah umum tersebut mengusung tema “Dari Kampus untuk Dunia: Mahasiswa PBSI sebagai Aktor Penting dalam Pengimplementasian SDGs.” Melalui tema ini, mahasiswa diharapkan semakin terdorong untuk berperan aktif dalam mewujudkan SDGs (Sustainable Development Goals) atau tujuan pembangunan berkelanjutan. SDGs sendiri merupakan 17 tujuan global yang dirumuskan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) guna mendorong pembangunan yang berkelanjutan sekaligus menjawab berbagai tantangan global.
Acara ini dihadiri oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum. Kaprodi PBSI FKIP UMS, Yunus Sulistyono, S.S., M.A., Ph.D dan perwakilan dosen PBSI FKIP UMS, serta ratusan mahasiswa PBSI dari berbagai angkatan. Ketua Program Studi PBSI, Yunus Sulistyono, Ph.D., menjelaskan bahwa kuliah umum ini merupakan agenda tahunan program studi yang secara konsisten menghadirkan narasumber bertaraf internasional ytang kompeten dibidangnya. Ia berharap kegiatan tersebut mampu memperluas wawasan mahasiswa sehingga lebih siap menghadapi tantangan dunia profesional di masa depan.
Dalam sambutannya, Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., menegaskan bahwa posisi Bahasa Indonesia kini semakin mendapat pengakuan di tingkat global. Menurutnya, Program Studi PBSI FKIP UMS telah berperan aktif dalam mengembangkan dan menginternasionalkan Bahasa Indonesia. Salah satu kontribusi tersebut adalah keterlibatan PBSI dalam pendirian Program Studi Bahasa Indonesia di Universitas Al Azhar, Kairo. Rektor UMS juga menegaskan bahwa kemajuan Bahasa Indonesia sangat bergantung pada kontribusi seluruh masyarakat yang menggunakannya.
Kuliah umum ini dipandu oleh Dipa Nugraha, Ph.D., dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia pada jenjang S1, Magister Pendidikan Bahasa Indonesia (S2), serta Program Doktor Pendidikan Bahasa Indonesia (S3) FKIP UMS. Dalam pengantarnya, moderator memperkenalkan Esie Hanstein sebagai sosok yang memiliki beragam keahlian, mulai dari pakar Bahasa Indonesia, sastrawan, penyanyi, penerjemah, hingga aktivis kemanusiaan.
Dalam paparannya, Esie yang berasal dari Pontianak, pernah menempuh pendidikan di Yogyakarta, dan kini berkarya menjadi dosen di Jerman, menampilkan berbagai dokumentasi visual mengenai kegiatan implementasi SDGs yang telah dilaksanakan baik di Indonesia maupun di luar negeri. Melalui ilustrasi gambar tersebut, mahasiswa diharapkan dapat memahami secara konkret berbagai bentuk kegiatan yang mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan serta terinspirasi untuk melakukan hal serupa.
Sebagai aktivis kemanusiaan yang juga terlibat dalam program Senyum Cemerlang, Esie menampilkan berbagai contoh kegiatan nyata yang sejalan dengan prinsip SDGs. Beberapa di antaranya meliputi gerakan pengurangan penggunaan plastik, pengembangan konsep green campus, upaya pelestarian lingkungan, penguatan kesetaraan gender, kegiatan kemanusiaan, hingga aksi bakti sosial.
Salah satu isu utama yang disoroti dalam pemaparan tersebut adalah pentingnya penerapan konsep green campus. Menurut Esie, upaya menciptakan lingkungan kampus yang ramah lingkungan harus disertai perubahan perilaku, seperti mengurangi penggunaan plastik serta meminimalkan polusi. Ia menekankan bahwa setiap aktivitas sebaiknya mulai beralih ke kebiasaan yang lebih ramah lingkungan, setidaknya dengan mengurangi pemakaian plastik sekali pakai.
Isu ini juga memicu diskusi aktif dari para mahasiswa. Beberapa mahasiswa mengajukan pertanyaan mengenai langkah konkret yang dapat dilakukan mahasiswa untuk mengurangi sampah di lingkungan kampus maupun di masyarakat.
Pada akhir sesi, Esie menegaskan bahwa mahasiswa PBSI memiliki potensi besar melalui kemampuan berbahasa Indonesia yang mereka miliki. Kemampuan tersebut dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan gagasan, mengedukasi masyarakat, serta mengajak berbagai pihak untuk berpartisipasi dalam implementasi SDGs, seperti pengurangan sampah, pemanfaatan energi terbarukan, pelestarian lingkungan, serta kegiatan sosial kemasyarakatan.



