PBSI FKIP UMS Adakan Seminar Internasional Budaya Literasi

PBSI FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta mengadakan The 4th (International Conference on Language Literature and Teaching) pada 12 Juni 2025 di Gedung Edutorium Universitas Muhammadiyah Surakarta. Seminar ini diselenggarakan atas kerja sama tiga  program studi  yaitu: S1 (Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia), S2 (Magiater Pendidikan Bahasa Indonesia), dan S3 (Pendidikan Bahasa Indonesia Program Doktor) FKIP UMS.

            Tema seminar ini adalah Revitalizing Literazy Culture. Menurut ketua panitia, Yunus Sulistyono, Ph.D., tema ini mencerminkan kepedulian  bersama terhadap menurunnya budaya literasi di tengah masyarakat digital. Tema ini diharapkan dapat mendorong lahirnya inovasi dan kolaborasi lintas bidang untuk menghiodupkan kembali minat baca, tulis, dan berpikir kritis di berbagai lapisan masyarakat.

            Seminar ini menghadirkan pembicara  utama Dr. Ganjar Hermansyah, S.S., M.Hum.  (Sekretaris Badan Pengembangan dan pembinaan Bahasa KemendikdasmenRI), Dr. Misita Anwar (Monash University, Australia), dan  Prof. Dr. Marian (Leiden University, The Netherlan).  Selain pembicara utama,  seminar ini  berhasil menghadirkan 141 pemakalah dengan 76 artikel yang dibagi menjadi 7 ruang untuk sesi paralel, baik ruang daring maupun luring.

            Dr. Ganjar Harimansyah, S.S., M.Hum.  memaparkan “Literasi sebagai Ruang Transformasi”. Menurutnya, kita sekarang berada di era VUCA yang ditandai dengan keadaan yang sangat cepat berubah dan ketidakpastian.  Untuk menghadapi era ini maka dibutuhkan literasi yang bukan hanya literasi biasa-biasa saja, tetapi literasi kini dipahami sebagai kritik sosial, bukan sekedar keterampilan membaca dan menulis. Literasi digital dan literasi multimodal merupakan literasi sudah menjadi kebutuhan.

Menurutnya, kondisi  Indonesia saat ini, masyarakat memiliki literasi digital tinggi, tetapi  literasi dasarnya rendah. Oleh karena itu, masyarakat banyak masih banyak yang menjadi korban pinjaman online, judi online, dan  berita-berita bohong.

Dr. Misita Anwar menyampaikan apparan tentang “Digital Literacy Vulnereable Communities”.  Pada paparannya, literasi digital merupakan keterlibatan secara kritis, budaya, dan strategi  dengan alat digital. Menurutnya, beberapa tantangan dalam menghadapi  literasi digital  antara lain: rendahnya tingkat literasi, penggunaan perangkat bersama, konektivitas yang tidak merata, kesenjangan budaya dan bahasa, dan kepercayaan informasi rendah.

Pleno terakhir  pada seminar ini menghadirkan Prof. Dr. Marian  Klamer  dari Leiden University. Topik yang dipaparkan adalah “Studi Bahasa-Bahasa Daerah di Indonesia”.   Klamer menyatakan bahwa Indonesia memiliki sekitar 770 bahasa dan baru 10% yang telah didskripsikan dengan tata bahasa dan ortografi sendiri.  Sebagian besar bahasa ini berupa bahasa lisan yang belum ditulis.

Salah satu isu yang menarik dipaparkan adalah banyak bahasa terancam punah.  Kondisi ini antara lain disebabkan semakin banyak  penutur bahasa lokal beralih menggunakan bahasa Indonesia.

            Kontributor: Main Sufanti