Senin, 1 Maret 2021

Penyelenggaraan Audit SPMI terhadap Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Auditor yang bertugas adalah Nurgiyatna, S.T., M.Sc., Ph.D. dan Dr. Agung Riyardi, S.E., M.Si. Dalam audit tersebut, Dekan FKIP, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum beserta jajaran dekanat hadir mewakili FKIP dalam menjawab dan menyediakan bukti fisik yang diminta oleh tim audit SPMI.

Pertemuan ini dilaksanakan secara daring mengingat situasi pandemic yang belum juga reda dan sebagai upaya mengurangi penyebaran virus Covid-19. Dalam audit ini disampaikan beberapa hal yang menjadi garis besar kegiatan FKIP UMS yaitu keberhasilan memperoleh 12 hibah dari kementrian. Hal ini mendapat apresiasi tersendiri mengingat kebermanfaatan dan kepercayaan kementrian terhadap FKIP UMS tetap dapat dijaga meskipun sedang situasi pandemi.

Disampaikan juga bahwa survey kepuasan dosen dan mahasiswa berada pada kategori puas dan sangat puas. Nurgiyatna, ST,. M.Sc., Ph.D menyatakan bahwa setelah dilakukan audit, FKIP sudah melaksanakan semua prosedur dan standar yang ditetapkan UMS. Hal ini penting dalam menjaga kualitas FKIP dari waktu ke waktu. Dr. Agung Riyardi, S.E., M.Si mengungkapkan bahwa sistem reward kepada dosen yang berhasil lulus S3 (Doktoral) maupun dosen pendamping mahasiswa yang berprestasi pada PKM perlu dilanjutkan dan akan dijadikan role model reward bagi fakultas lain di UMS.

Hal yang masih perlu ditingkatkan menurut auditor adalah akses untuk mahasiswa kebutuhan khusus di FKIP. Hal ini diakui tidak terlepas dari struktur dan desain bangunan di FKIP yang memiliki banyak tangga. Atas temuan audit ini, pihak dekanat FKIP akan secara serius memperbaiki untuk kemudahan akses bagi semua civitas akademika.

Surakarta, 1 Maret 2021
Bertempat di Kantor LPPKS Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI antara LPD FKIP UMS bersama LPPKS dan Ketua Majelis Dikdasmen Jawa Tengah tandatangani MoU untuk pelaksanaan Diklat 98 Calon Kepala Sekolah (CKS). Diklat ini akan dimulai pada 22 Maret 2021 dan berakhir pada 10 Juli 2021. Selama masa pandemi ini Diklat CKS ini akan sepakati dilaksanakan secara blanded, kombinasi antara daring dan luring. Demikian papar penanggung jawab LPD FKIP UMS yang sekaligus Dekan FKIP UMS dan Ketua ALPTK PTM, Prof. Harun Joko Prayitno.

Penandatangan MoU Penyelenggaraan Diklat CKS yang bertempat di LPPKS ini dihadiri lengkap oleh Kepala LPPKS Kemdikbud RI Prof. Nunuk Suryani, Rektor UMS Prof. Sofyan Anif, dan Ketua Majelis Dikdasmen Jawa Tengan Dr. Iwan Junaidi, dan Tim Teknis LPD FKIP UMS. Diklat ini diselenggarakan sebagan bentuk implementasi kerja sama antara Majelis DIkti Litbang PP Muhammadiyah dengan Majelis DIkdasmen PP Muhammadiyah sekaligus sebagai bentuk komitmen implementasi LPD FKIP UMS dengan LPPKS Kemndikbud RI tentang Penyelenggaraan Diklat Calon Kepala Sekolah maupun Diklat Penguatan Kepala Sekolah dalam kerangka peningkatan mutu pendidikan di Indonesia. Salam @FKIP CAKAP.

Surakarta, 5 Februari 2021

Salah aspek penting dalam penyiapan calon guru profesional holistik bagi mahasiswa LPTK adalah proses pendidikan calon guru yang desain pembelajarannya mampu menyiapkan lulusannya memiliki kompetensi untuk hidup, kehidupan, penghidupan, dan untuk berpenghidupan dalam konteks pendidikan secara luas. Pilar kompetensi pendidikan holistik ini sangat penting dalam kaitannya dengan konteks implementasi MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka) supaya lulusan FKIP UMS memiliki daya juang yang tangguh dan mampu beradaptasi dalam konteks pendidikan global. Demikian penegasan Prof. Harun Joko Prayitno selaku Dekan FKIP UMS sekaligus sebagai Ketua ALPTK PTMA yang disampaikan kepada 2.015 mahasiswa Magang PLP-1 saat pelepasan Magang PBB (Magang Pembelajaran dan Budaya Belajar).

Magang PLP-1 periode pandemi ini didesain menjadi Magang Observasi Pelaksanaan Pembelajaran dan Observasi Budaya Belajar (Magang OPP-OBB). Magang kali ini secara utuh dilaksanakan dalam dua bentuk, yaitu magang Observasi Pembelajaran (OPP) dan Magang Observasi Budaya Belajar (OBB), baik yang dapat dilaksanakan di lingkungan pendidikan informal, nonformal, maupun pendidikan formal selama masa pandemi.

Secara lebih detail implementasi magang awal PLP-1 yang diadaptasi ke dalam observasi OPP dan OBB masa pandemi ini dapat dilaksanakan dalam bentuk OPP di sekolah, OPP di rumah guru [siswa yang belajar ke rumah guru, OPP di rumah siswa (guru home visit); OPP di rumah siswa yang mengajarnya dilakukan siswa orang tua/ wali/ kakak/eyang/ tetangga/siswa belajar sendiri. Untuk memperkuat karakter dan budaya belajar mahasiswa bentuk magang ini diperluas menjadi penyiapan pengenalan budaya belajar antara lain, melalui OBB nonmengajar di sekolah (yang melaksanakan pembelajaran secara luring), OBB nonmengajar di rumah siswa, OBB di rumah guru (yang melaksanakan secara daring).

Magang PBB dalam bentuk OPP dan OBB dilaksanakan di sebanyak 1.037 lokasi penyelenggara pendidikan, baik pendidikan informal, nonformal, maupun formal. Dari sebanyak 2.015 mahasiswa semester IV awal ini melaksanakan Magang PBB di sejumlah provinsi, antara lain: Bali, Bangka Belitung, Banten, Bengkulu, DKI, Jambi, Jabar, Jateng, Jatim, Kalbar, Kalsel, Kalteng, Kaltim, Kaltara, Kepulauan Babel, Lampung, NTB, Riau, Sulbar, Sulsel, Sumbar, Sumsel, Sumut, DIY, dan internasional di Yala Thailand.

Rektor UMS, Prof. Dr. Sofyan Anif dan Ketua Majelis Dikdasmen Wilayah Jateng Dr. Iwan Junaidi dalam sambutannya pada saat pelepasan mahasiswa Magang PLO-1 PBB tersebut menegaskan pentingnya pilar pendidikan learning to do dan learning to live together atau mendekatkan calon guru dengan penyelenggara pendidikan merupakan upaya yang tepat sasaran dan strategis dalam kerangka penyiapan sosok guru profesional abad 21. Guru yang mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan pendidikan yang selalu berubah, guru yang memiliki kemampuan berinovasi dan berdistingtif dalam mengelola dan mengembangkan pembelajaran yang berkarakter kuat serta HOTS. melalui program Magang 1- PBB ini diharapkan lulusan FKIP mampu menjadi guru dan pimpinan sekolah yang progresif, distingtif, dan inovatif dalam konteks pendidikan luas. Semoga dan salam @FKIP CAKAP

Pabelan, 1 Februari 2021
Desain pelaksanaan KKN Pendidikan (KKNDik) bagi mahasiswa FKIP UMS Periode Januari-Maret 2021 diadaptasi menjadi KKNDik MKPT MP (Masyarakat, Komunitas, Perintis, Tematik Masa Pandemi). Adaptasi ini penting sejalan dengan perubahan era pembelajaran abad 21 yang bertumpu pada komunikasi dan komputasi global di tengah masa pandemi. Kegiatan ini sekaligus sebagai bentuk integrasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka Kemendikbud ke dalam mata kuliah yang bertujuan untuk mendewasakan dan memandirikan dalam kerangka untuk mewujudkan pendidikan holistik untuk hidup, kehidupan, penghidupan, dan untuk berkehidupan bermasyarakat secara luas. Oleh sebab itu tema utama KKNDik MKPT MP periode ini diadaptasi menjadi Mengahadirkan Pendidikan Masa Pandemi, demikian penegasan Dekan FKIP UMS, Prof. Harun Joko Prayitno.

Kegiatan ini diikuti oleh 1.466 mahasiswa yang terbagi ke dalam 395 kelompok sasaran masyarakat pendidikan dan 54 mahasiswa masyarakat sasaran mandiri. Para mahasiswa menghadirkan pendidikan di tengah pandemi ini ke berbagai negara dan daerah, antara lain: masyarakat pendidikan di Mayo, Pattani Thailand, Aceh (Aceh Singkil), Bengkulu, Sumatera Selatan, Jawa Barat (Pangandaran), Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, NTT, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.

Prof. Lincolin Arsyad Ph.D. selaku Ketua Majelis Dikti Litbang PP Muhammadiyah dan Prof. Dr. Sofyan Anif atas nama Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta pada saat pembekalan umum dan dilanjutkan pelepasan kegiatan KKNDik MKPT MP ini menegaskaan pentingnya mahasiswa sebagai calon guru harus dekat dengan masyarakat pendidikan. Beliau juga memberikan bekal terkait pentingnya calon guru untuk selalu dapat beradaptasi dan berinovasi dalam konteks pendidikan global yang selalu berubah. Pengalaman lapangan dengan kepelbagaian persoalan pendidikan untuk dipecahkan dari perspektif pendidikan merupakan sumber pembelajaran yang paling penting dalam kerangka menyiapkan menjadi calon guru yang profesional, berkepribadian islami, dan sebagai penggerak serta perubahan pendidikan dalam konteks luas. Demikian imbuh Prof. Lincolin Arsyad dan Prof. Sofyan Anif dalam kesempatan pembekalan umum dan pelepasan KKNDik MKPT MP 2021 ini.

Progam ini dilaksanakan tetap dengan berpedoman pada kehidupan yang islami, profesional, protokol kesehatan, pola hidup bersih sehat (PHBS), iman nutrisi imun (INI), dan selalu menghormati kearifan budaya lokal masyarakat sasaran KKNDik. Secara garis besar KKNDik MKPT ini dilaksanakan bentuk pendidikan masyarakat, pendidikan perintis, pendidikan komunitas, pendidikan tematik, baik di lingkungan masyarakat informal, nonformal, maupun formal di sekolah dengan mematuhi protokol kesehatan. Bentuk-bentuk kegiatan KKNDik periode ini dilaksanakan misalnya:

  1. Pendidikan Menggembirakan & Menyehatkan bagi Anak-Anak Usia SD Kelas Bawah di Lingkungan RT 01 Dusun Sehat Santosa Masa Pandemi [KKNDik Mas Nonformal];
  2. Perintisan dan Pengembangan Teknologi Informasi MI Muhammadiyah Gonilan Berbasis Web mim-gonilan.sch.id [KKNDik Perintis];
  3. Penguatan Kagiatan TPQ Masjid Al Furqon Makam Haji dengan Metode Iqro’ di Masa Pandemi [KKNDik Mas Nonformal];
  4. Revitalisasi Kegiatan Pengajian Ahad Pagi bagi Jamaah Masjid Al Mukmin Gonilan Masa Pandemi [KKNDik Mas Nonformal];
  5. Pemberdayaan Remaja Masjid Mengelola Perpustakaan Islami Masa Pandemi di Masjid Al Hikmah Dusun Sawahan [KKNDik Tematik];
  6. Pengembangan Seni Tradisi Islami Masa Pandemi bagi Jamaah At Taqwa Dusun Maju Mulya [KKNDIk Komunitas];
  7. Penanaman Pendidikan Karakter Religius bagi Anak-anak Usia Dini di Lingkungan RT 05 Japanan [KKNDik Masy Nonformal];
  8. Edukasi Belajar Mandiri Masa Pandemi bagi Kelompok Anak Usia SD Kelas Bawah di Rumah Ibu Aisyiyah RT 03 Desa Ngadirejo [KKNDik Masyarakat Informal];
  9. Pemberdayaan Olah Raga Tapak Suci/ HW Masa Pandemi bagi Siswa SMP Muhammadiyah 7 Colomadu (KKNDik Masyarakat Formal Sekolah]; atau
  10. Bentuk kegiatan lainnya yang dapat dikembangkan dengan kata kunci KKNDik MKPT MP (pemberdayaan/ pengembangan/ penguatan/ pelatihan/ edukasi/ inisiasi/ perintisan/ penumbuhkembangan/ pembudayaan/ pembudidayaan/ revitalisasi/ pengentasan/ peningkatan/penyiapan/pembentukan/ penerapan/ percepatan/ aktualusasi-reaktualisasi/ dll. terhadap masyarakat sasaran dalam konteks pendidikan luas).

Semoga kegiatan KKNDik MKPT MP dengan tema Menghadirkan Pendidikan Masa Pandemi ini bisa menumbuhkan semangat belajar kembali bagi anak-anak usia sekolah pada khususnya dan dapat menumbuhkembangkan pembelajar sepanjang hayat bagi masyarakat luas. Semoga. Salam @FKIP CAKAP.

Majene, 23 Januari 2021

Bencana yang telah menimpa daerah Majene Mamuju Sulawesi Barat telah menggerakkan Muhammadiyah untuk ikut berkiprah dalam memberikan pertolongan kepada saudara yang tertimpa bencana. Tak ketinggalan para dosen dan mahasiswa FKIP juga bahu membahu ukit berperan untuk memberikan bantuannya. Penggalangan dana dilakukan oleh para dosen yang bekerjasama dengan Asosiasi LPTK-PTM dan mahasiswa yang dikoordinir oleh BEM dan DPM FKIP UMS. Selain melaksanakaan penggalangan dana ada diantara mahasisiswa FKIP UMS yang ikut bergabung dalam tim Alfa MDMC Jawa Tengah. Muhammad Taufiq Ulinnuha salah satu mahasiswa Program Studi Bahasa Inggris FKIP UMS bersama 9 relawan lain yang tergabung dalam tim Alfa berangkat melalui bandara Ahmad Yani Semarang pukul 15.00 WIB menuju Jakarta. Selanjutnya terbang menuju Makassar dan tiba di bandara Mamuju 1 hari berikutnya tanggal 18 Januari 2021 pukul. 12.00 WIB. Setibanya di Mamuju tim ini akan menuju Pos Koordinasi Muhammadiyah yang berada di Pusat Dakwah Muhammadiyah Mamuju Sulawesi Barat Jl. Soekarno Hatta.

Tim Alfa MDMC Jateng ini mendapatkan tugas utama melakukan operasi pencarian dan pertolongan serta evakuasi warga terdampak. Sebagaimana press realese MDMC Jateng Tim ini secara khusus dilepas oleh Drs. H. Tafsir selaku Ketua PWM Jateng di Gedung PWM pada hari Ahad 17 Januari 2021 pukul 11.00 WIB. Beliau berpesan pada tim dengan nasehat untuk ikhlas memberikan pertolongan yang bisa berupa harta, waktu, tenaga dan pikiran, demikian amanah yang disampaikan. Ketua PWM juga berpesan kepada para relawan untuk selalu jaga kesehatan di lokasi bencana yang jauh dari rumah masing-masing. Salam @FKIP CAKAP.

Surakarta, 14 Januari 2021.

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan telah selesai menggelar seleksi mahasiswa berprestasi tingkat Fakultas pada 4 & 5 Januari 2021. Sebelumnya, sosialisasi dan penjaringan dilakukan mulai dari Program Studi dan dari penjaringan tersebut kemudian tersaring sebanyak 6 peserta yang lolos seleksi administratif. Keenam peserta tersebut antara lain  Dewi Masithoh dari Prodi Pendidikan Akuntansi, Anjas Rusdiyanto Soleh dari Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Zakiyyah dari Prodi Pendidikan Matematika, Eriza Putri Ayu Ning Tias dari Prodi Pendidikan Biologi, Dimas Luhur Aji Prabowo dari Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, dan Agung Karuniawan dari Prodi Pendidikan Teknik Informatika. Selanjutnya ke enam peserta yang lolos seleksi administratif ini mengikuti seleksi penulisan karya ilmiah, presentasi karya ilmiah dan bahasa Inggris.

Selain seleksi administratif dan kinerja tersebut, mahasiswa berprestasi tingkat Fakultas juga harus menunjukkan prestasinya dalam berbagai bidang kejuaraan dan peran kerja di masyarakat. Bidang-bidang kejuaraan bisa meliputi kejuaraan dalam lingkup wilayah, nasional, maupun internasional.

Berdasarkan seleksi penulisan karya ilmiah, presentasi karya ilmiah, bahasa Inggris, dan portfolio prestasi dan peran kerja di masyarakat maka selanjutnya terpilih Eriza Putri Ayu Ning Tias dari Prodi Pendidikan Biologi sebagai wakil calon mahasiswa berprestasi untuk mewakili FKIP. Eriza menyusun artikel ilmiah dengan judul ‘Inovasi Pakan Lele dari Limbah Kulit Singkong dan Kulit Nanas untuk Meningkatkan nilai Ekonomis Limbah dan Mewujudkan Gerakan Zero Waste”. Selain meningkatkan nilai ekonomis limbah kulit singkong dan kulit nanas, menurut Eriza pakan berbasis kulit singkong dan kulit nanas bisa menggantikan pakan yang tidak sehat, yang kadang diberikan oleh peternak pada lele mereka. Dengan pemberian pakan kulit singkong dan kulit nanas ini lele bisa lebih sehat dikonsumsi.

Peringkat ke dua diduduki oleh Dimas Luhur Aji Prabowo dari Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, sementara peringkat tiga  diduduki oleh Zakiyyah dari Prodi Pendidikan Matematika. Selanjutnya Eriza akan diusulkan untuk ikut seleksi mahasiswa berprestasi di tingkat Universitas. Kepada peringkat 1, 2 dan 3 juga mendapatkan piagam penghargaan dan uang pembinaan dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Salam @FKIP CAKAP.

[wzslider autoplay=”true”]

Surakarta, 8 Januari 2021

Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS bukanlah menara gading yang riuh dengan diktat dan seremonial wisuda namun bergerak dan beradaptasi dengan sangat dinamis untuk memberikan solusi terhadap persoalan di dunia “nyata”. Dalam puisi Sajak Sebatang Lisong, W.S. Rendra sampai mengkritik dengan kalimat Apalah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan. Dengan didukung kemampuan SDM yang sangat memada dan pengamalan menajerial yang tangguh serta sistem informasi yang kuat maka UMS menerjemahkan dengan cepat ke dalam kegiatan dharma pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, publikasi, dan HaKI. Dalam konteks inilah, UMS memiliki tema riset unggulan yaitu “Transformasi menuju masyarakat utama”. Tema utama tersebut kemudian diderivasi ke dalam isu-isu utama yang menjadi tema-tema unggulan penelitian sesuai dengan dukungan dan kompetensi kompetensi SDM di lingkungan UMS.

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan (FKIP) merespons pelaksanaan program HIT ke dalam tema unggulan FKIP yaitu  Pendidikan karakter profetik, distingtif, Saintifik, & progresif di Era Komputasi Global yang kemudian dijabarkan ke dalam topik-topik unggulan prodi di lingkungan FKIP. Program HIT FKIP dikelola secara profesional berkolaborasi dengan Lembaga Penelitian Pengabdian Masyarakat (LPPM), Lembaga Penjaminan Mutu (LJM), dan Lembaga Pengembangan Publikasi Ilmiah (LPPI) UMS. Program HIT FKIP diawali dengan ajuan praproposal HIT FKIP dengan mengajukan 82 proposal kegiatan yang berasal dari 17 program studi dari program sarjana, magister, dan doktor.

Program unggulan HIT ini dirancang secara khusus untuk mengintegrasikan kegiatan riset yang berorientasi beorientasi pada 4 keluaran sekaligus, yaitu: (a) artikel publikasi ilmiah pada jurnal internasional bereputasi terindeks Scopus minimum Q3 (min SJR, 0.15); (b) implementasi pengembangan PBM buku/modul book chapter; (c) paten/HaKI/teknologi tepat guna/teknologi pembelajaran; dan (d) tindak lanjut berupa kegiatan pengabdian kepada masyarakat.

Setelah melalui proses review dan pemaparan pra-proposal di hadapan tim UMS, LPPM, LJM, & LPPI tim HIT FKIP UMS berhasil memperoleh kuota pengusulan proposal sebanyak 77 judul. Pada setiap judul, tim peneliti yang terdiri dari dosen tetap dan minimal dua mahasiswa. Program ini didorong untuk melibatkan implementasi mitra kerja sama baik dalam maupun luar negeri. Dari jumlah proposal yang masuk, berhasil diindentifikasi 15 mitra kerja sama luar negeri yang siap berkontribusi secara in cash maupun in kind. Artinya, mitra luar negeri tersebut nantinya tidak hanya berperan dalam sharing funding dan pengembangan proposal akhir, tetapi juga pelaksanaan dan hasil-hasil keluaran berupa publikasi ilmiah bereputasi Scopus, pemeroleh HaKI, penerbitan buku, dan pengabdian kepada masyarakat.

Melalui program ini, FKIP UMS berharap dapat mengaktualisasikan diri untuk berperan aktif memberikan solusi alternatif bagi persoalan-persoalan bangsa, khsusnya di bidang pendidikan. Di sisi lain, hibah tersebut juga dapat menjadi stimulus bagi para dosen untuk dapat lebih produktif dalam menelurkan karya ilmiah dan publikasi ilmiah sekaligus mendukung hilirisasi hasil-hasil riset dosen FKIP UMS. Hal ini akan berujung kepada penguatan reputasi kelembagaan yang turut mendongkrak pengakuan masyarakat Indonesia dan internasional terhadap FKIP UMS sesuai dengan visi memberi arah perubahan secara global. Melalui program HIT ini FKIP memiliki peran sentral untuk menjadi motor penggerak perubahan pendidikan dalam konteks luas dan untuk meningkatkan kualitas manusia melalui penyiapan tenaga pendidik dan kependidikan yang Cerdas, Amanah, Kompeten, Andal, Pembaharu (CAKAP) sekaligus siap menjadi pemikir, pendidik, dan pembaharu pendidikan dalam erakomunikasi dan komputasi global. Aamiin. Salam @FKIP CAKAP.

Lamp:

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Surakarta yang sangat dikenal dengan jargon CAKAP (Cerdas, Amanah, Kompeten, Andal, dan Pembaharu) kembali menunjukkan eksistensinya dengan segudang prestasi baik akademik maupun nonakademik di tingkat nasional bahkan internasional di berbagai bidang. Prestasi di bidang seni, karya tulis ilmiah, olah raga, minat dan bakat, serta literasi mewarnai penuh arti.

Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir (2018 s.d. 2020) lebih dari 50 capaian prestasi berhasil diukir mahasiswa dari 11 studi, yaitu: (1) Pendidikan Akuntansi; (2) Pendidikan Kewarganegaraan; (3) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia; (4) Pendidikan Bahasa Inggris; (5) Pendidikan Matematika; (6) Pendidikan Biologi; (7) PGSD; (8) PGPAUD; (9) Pendidikan Geografi; (10) Pendidikan Teknik Informatika; dan (11) Pendidikan Olah Raga mampu mengantarkan 82% program studi yang dikelola oleh FKIP UMS terakreditasi A.

Dalam bidang akademik, FKIP UMS tidak pernah absen dari pendanaan PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) yang diselenggarakan oleh Belmawa. Di pihak lain, civitas akademika FKIP UMS sangat aktif dalam kompetisi baik secara nasional maupun internasional. Prestai yang diraih di antaranya adalah juara tingkat internasional dalam 7th Bali International Choir Festival yang sekaligus meraih 3 International Gold Medal 1. Gold Medal Folklore Championship 2. Gold Medal Folklore Competition dan 3. Gold Medal Pop&Jazz Competition 2018;  Singapore Open Pencak Silat Championship 2019; dan di penghujung tahun 2020 menjadi juara 2 lomba cipta puisi yang diselenggarakan oleh Kemdikbud.

Informasi lebih lengkap tentang prestasi yang telah dicapai oleh mahasiswa FKIP UMS [cek fakta]

Blora, 5 Januari 2021

Guru adalah pekerjaan mulia namun memiliki tantangan yang besar dalam eksekusinya, menjadi guru harus mempersiapkan segala hal tidak hanya kecerdasan, tidak hanya kecantikan dan kegantengan secara fisik, tidak hanya transfer ilmu melainkan mampu memberikan pembelajaran yang bermakna serta menyenangkan kepada peserta didik, mendidik peserta didik tentunya harus dilandasi tentang akidah dan akhlak agar menjadi manusia yang memiliki budi pekerti sebagai perwujudan dari pendidikan. 12 september 2020 adalah gerbang awal saya mengabdi sebagai salah satu anggota keluarga guru penggerak dalam program kampus mengajar perintis. Mendidik tanpa rasa cinta ibarat memasak tidak dibumbui dengan garam dan gula menghasilkan sebuah rasa yang hambar/biasa saja.

Mengajar di SDN 1 Andongrejo adalah pengalaman hidup yang tidak akan pernah saya lupakan, bukan karena mendapat pengalaman yang tidak menyenangkan melainkan sebaliknya, dari program inilah saya mendapatkan oleh-oleh pengalaman berharga arti dari sebuah kehidupan. Saya dihapakan dengan kondisi Pendidikan yang penuh dengan tantangan karena mengajar ditengah kondisi covid-19 sekolah tidak diperbolehkan untuk melakukan proses pembelajaran tatap muka (offline) untuk mengurangi tingkat penyebaran covid-19, sehingga sekolah membentuk kelompok belajar yang dilaksanakan di rumah warga atau masjid kampung desa andongrejo namun tetap memenuhi protokol Kesehatan, alasan pelaksanaan kegiatan pembelajaran offline tetap dilaksankan salah satunya karena tidak semua anak/orang tua memiliki fasilitas handphone yang canggih untuk pembelajaran daring serta kondisi material.

Waktu itu dikelas 2 saya menjumpai peserta didik yang belum bisa membaca, tidak percaya diri, pendiam, kritis dalam mengungkapkan segala hal dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Saya berusaha mendesain pembelajaran dengan mengkolaborasikan beberapa metode agar peserta didik tidak bosan, kegiatan belajar mengajar selalu diselingi kegiatan ice breaking, permainan. Pada kegiatan ice breaking semua peserta didik merasa antusias dan senang. Maka dari itu pembelajaran yang menyenangkan tidaklah harus fokus pada materi saja namun bisa diselingi dengan ice breaking untuk membangun semangat peserta didik dalam memulai/melanjutkan pembelajaran, tidak menutup kemungkinan ice breaking, permainan bisa dikaitkan dengan materi pembelajaran yang sedang dipelajari.

Ketika saya menghadapi kondisi kelas yang ramai saya berusaha untuk tetap tenang, disinilah point kesabaran dan rasa cinta perlu ditanamkan dalam diri sendiri bukan membetak peserta didik untuk diam. Pada saat itu peserta didik rama sendiri ada yang berceletuk “Bu..azizah liat kerjaan saya..Bu dimas ngomong terus..Bu saya ingin maju..Bu kelompok saya sudah selesai..Bu..Bu..” ujar peserta didik kelas 2 yang selalu ingin diperhatikan. Dalam hati saya tetawa karena kelas semakin ramai dengan celetukan tersebut. Kemudian saya menginstruksikan “tepuk satu” masih ada yang berbicara sendiri, kemudian dengan suara lebih keras saya berkata “tepuk ular” semua peserta didik diam dengan tangan kanan kedepan menirukan gesture ular.

Pada kondisi seperti ini buatlah diri sendiri menjadi menarik dihadapan peserta didik sehingga peserta didik yang mulanya ramai bisa berangsur kondusif, bisa juga membuat perjanjian yang saling menguntungkan antara peserta didik dengan guru. Mengajar kelas rendah dengan kelas atas secara penyampaian atau pengkondisian tentu berbeda. Melatih manusia agar menjadi manusia adalah sebuah tantangan yang besar tergantung niat dan keikhlasan. Bertemu dengan peserta didik yang memiliki karakteristik beranekaragam adalah kesenangan dan tantangan tersendiri, walaupun tidak bisa menjadi guru cantik, sedikit tidak jadilah guru baik yang menyenangkan dan tidak membosankan maka disitulah perlu ditanamkan rasa cinta ketika berhadapan dengan peserta didik. Salam @FKIP CAKAP.

Penulis: Desy Tri Permatasari, PGSD FKIP UMS: Program Mengajar Perintis Kemdikbud 2020

 

 

Surakarta, 17 Desember 2020

Mencermati kondisi yang sampai saat ini belum ada kepastian masa pandemi ini ini akan berakhir, berarti sudah berlangsung 10 bulan sejak Medio Maret 2020, maka sangat diperlukan langkah-langkah strategi dalam kaitannya dengan pelaksanaan pembelajaran masa transisi pandemi ini. Langkah ini dipandang sangat penting karena jika tidak ada persiapan matang sejak awal maka dimungkinkan akan terjadi loss generation atau bahkan education death (kepunahan pendidikan). Dalam arti pendidikan sebagai sebuah proses yang membersamai pembelajar tidak hadir secara nyata (induktik) atau bahkan punah sama sekali.

Pembelajaran online (daring) memang unggul dalam fleksibilitas waktu dan tempat, bisa dari mana saja dan dapat kapan saja. Namun demikian bukan berarti tanpa kelemahan, misalnya: cepat lelah, cepat capek, kurang induktif, kurang kontekstual, kurang membumi, tidak bisa utuh, interaksinya semu, dan terutama sulit untuk menjangkau implementasi PPK (Penguatan Pendidikan Karakter) bagi pembelajar.

Dalam konteks ini da dengan mempertimbangkan aspek serta kondisi tersebut, maka diterbitkannya SKB 4 Menteri: Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama (Menag), Menteri Kesehatan (Menkes), dan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Semester Genap Tahun Ajaran dan Tahun Akademik 2020/2021 di Masa Pandemi Covid-19 perlu diterjemahkan secara bijak oleh banyak pihak, khususnya penyelenggara lembaga pendidikan dan pembelajar, baik siswa di Sekolah Dasar-Menengah maupun mahasiswa di Perguruan Tinggi.
Hasil diskusi Rektor UNS Prof. Jamal Wiwoho dengan Prof. Harun Joko Prayitno selaku pengamat pendidikan dari FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta yang diselenggarakan oleh RRI Surakarta pada Kamis 17 Desember 2020 direkomendasikan beberapa hal.

Rekomendasi yang utama adalah upaya preventif seperti meningkatkan imun, menegakkan kedisiplikan, dan tetap semangat dalam belajar-mengajar supaya mutu, proses, dan luuaran serta output pembelajaran dapat tercapai. Kemudian, bersyarat dan bertahap. Artinya, untuk bisa melaksanakan pembelajaran luring diperlukan berbagai persyaratan, misalnya mendapatkan izin dari satgas covid, dengan prokes, termasuk wilayah demografi (zona) aman (hijau) dll. Dan dilakukan bertahap artinya tidak bisa langsung dilaksanakan 100% luring, baik dari ukuran jumlah tatap muka maupun waktu dalam setiap tatap muka pembelajaran. Langkah ini penting supaya sehat, aman, dan proses pembelajaran memenuhi standar yang ditetapkan.

Tahap berikutnya adalah dilakukan evaluasi dan refleksi secara bersama untuk menentukan keberlanjutan tahap-tahap berikutnya. Dalam konteks ini maka model-model pembelajaran luring masa pandemi ini juga dianjurkan misalnya dengan menyesuaikan dari rombongan belajar/rombel menjadi kelompok belajar/kelar, waktu pembelajarannya yang selama ini misalnya kalau 2 SKS di Perguruan tinggi dibutuhkan waktu 100 menit maka untuk masa adaptasi ini cukup 50% atau 50 menit, jumlah tatap muka yang kalau dalam kondisi normal 14-16 kali pertemuan maka dalam masa transisi ini cukup 30% atau sekitar maksimal 4 kali pertemuan. Demikan tegas Prof. Harun Joko Prayitno yang sekaligus sebagai Dekan FKIP UMS.

Oleh sebab itu, perencanaan secara bertahap dan evaluasi secara bertahap dalam pembelajaran luring masa adaptasi pandemi ini menjadi penting terutama dalam kaitannya dengan syarat dan tahapan tersebut. Mengakhiri sesi diskusi tersebut Prof. harun Joko Prayitno menegaskan pentingnya pembelajaran yang holistik di era transisi pandemi supaya kompetensi holistik pembelajaran sebagai hakikat dari pembejaran yaitu kemampuan untuk hidup, kemampuan untuk kehidupan, kemampuan untuk penghidupan sebagai modal pembelajar dalam berkehidupan bermasyarakat dapat terwujud. Semoga. Salam @FKIP CAKAP.

Harun Joko Prayitno,

Ketua ALPTK PTMA/Dekan FKIP UMS